Mari menjadi Mu’tazilais

wah sempat nggak kebayang, bagaimana fanatiknya aku ketika berada di bangku MTs Nurul Huda Jubang sampai SMA N 1 Larangan, edan men. saya termasuk pengaggum FPI, Pasukan Jihad dan Madhab Islam garis keras lainnya…ketika itu aku masih minim pemahaman agama, alias masih taklid buta.

semuanya aku tinggal ketika aku mulai mengkaji agama di sebuah perguruan tinggi di Purwokerto bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Ne(geri ( STAIN) Purwokerto. wah pandanganku jadi luas ternyata islam tak selebar biji bayam…begitu luas, begitu dalam begitu artistik. samudra yang luas aku coba jelajahi, berbagai pulau madhab dan pandangan coba aku singgahi semuanya bagus, khawarij, syiah, jabariyah, qodariyah, murjiah dan mu’tazilah semuanya bagus, akan tetapi disemestre ke 3 pada saat itu aku ketemu dengan mata kuliah yang berjudul ilmu kalam dengan dosen Pak Supriyanto Lc, luar biasa, beliau adalah seorang alumni timur tengah akan tetapi pandangannya sangat terbuka, ilmu kalam mulai aku pelajari, dan saat itu aku mengkaji tentang mu’tazilah….

sekali lagi wah luar biasa, ditengah berbagai fitnah yang melanda mu’tazilah ternyata ia adalah mutiara yang terpendam. banyak hal dan pandangan yang sangat menarik dan lebih rasional. ,meskipun sebenranya mu’tazilah tidak pernah mendewakan akal (tidak seperti yang ditulis oleh para kritikus yang kurang suka dngan mu’tazilah). mutazilah dengan lima pandangan dasarnya mengajarkan hakikat hidup beragam serta bagaimana memahami agama dengan melepas baju kefanatikan.

banyak hal yang mestinya kita berfikir jernih tentang mu’tazilah, aku tidak suka dengan kefanatikan sempit yang kemudian mencaci maki madhab lain dengan seenaknya sendiri, semuanya bagus..kenapa karena tidak ada yang salah dalam berijtihad sebagaimana sabda nabi yang berbunyi :

” jika seseorang menghukumi sesuatu atau berijtihad kemudian ia salah maka ia akan mendapatkan satu pahala, dan jika ia berijtihad kemudian benar maka ia akan mendapatkan dua pahala”.

dari sabda ini dapat kita fahami, bahwa kesalahan kita dalam berijtihad tidak serta merta dihukumi neraka atau dosa akan tetapi masih ada penghargaan dengan satu pahala. lebih-lebih bila yang kita lakukan adalah benar.

akan tetapi yang perlu kita fahami, jika yang kita lakukan adalah salah kemudian kita menemukan kebenarannya maka wajib kita mengikuti yang benar, dengan catatan itu benar-benar benar tidak benar menurut sendiri kemudian dipaksakan ke orang lain. ini lah makna tolreansi.

pertemuan ku dengan mu’tazilah banyak memberikan warna dalam hidupku, oleh sebagian orang mungkin ini adalah sesuatu yang kurang benar. akan tetapi hidup memang harus punya prinsip. keyakinan diri itu sangat penting jangan hanya mengandalkan orang lain.

dan yang terpenting lagi adalah diantara kita wajib BERIJTIHAD tidak ada kata pintu ijtihad tertutup. pintu ijtihad semenjak adam hawa sampai dunia kiyamat tetap TERBUKA. karena kebenaran manusia bersifat relatif, artinya tidak bisa diklaim paling benar. kebenaran mutlak ada di tangan ALLAH SWT. maka marilah kita menjadi muslim yang sejati yang bisa menghargai perbedaan. dan bersama sama membangun islam dengan baik.

demikian sebuah tulisan dari aku, semoga kita semua diberkahi oleh ALLAH SWT selamanya sampai ahir dunia..Aminnn….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s